Tuesday, 4 September 2012

Bantahan Teori Malthus


Seorang pakar Makroekonomi Inggris Thomas Robert Malthus dan multidisiplin dari berbagai jurusan ilmu yang terkenal di abad ke-18. Ada satu teori yang sangat terkenal yang dipungkas olehnya, bahkan menjadi teori yang dipercaya banyak orang pada zaman itu. Teorinya yang paling terkenal yaitu “Teori Malthus” di buku “Essay on the Principle of Population as it affects the future improvement of society”. Teori Malthus menjelaskan bahwa pertumbuhan penduduk atau jumlah individu di muka bumi ini bertambah sesuai dengan deret ukur sedangkan pertambahan sumberdaya dan jumlah makanan bertambah sesuai dengna deret hitung. Deret ukur berarti kelipatan 1, 2, dan seterusnya. Dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, dan seterusnya. Deret hitung adalah seperti kita menghitung bilangan real, mulai dari 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya (linear).

Teori Malthus juga menjelaskan hubungan antara tingkat pertumbuhan pendapatan agregat dan tingkat pendapatan perkapita. Pada abad ke-19 kejadian ini semakin nyata, dimana eksploitasi pasca revolusi industri di Inggris semakin besar dalam mengolah sumberdaya alam. Tingkat pendapatan perkapita menjadi variable penting dalam pengambilan kesimpulan teori ini. Jika pertumbuhan penduduk tinggi dan naik terus tiap tahunnya sedangkan pendapatan konstan atau lebih namun tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk, otomatis tk. Pendapatan perkapita menurun.

Namun, pada abad ke-21 seperti sekarang ini. Ada beberapa sanggahan dan bahkan Fauzi (2012) mengatakan ini hanya teori yang menakut-nakuti belaka. Beberapa asumsi dan fakta yang terjadi dan tidak sesuai dengan teori ini antara lain:

1. Tingkat pengetahaun teknologi pertanian dan pangan semakin meningkat tiap tahunnya. Contoh: Teknologi pupuk yang dapat meningkatkan kuantitas panen.

2. Pertumbuhan penduduk Negara dengan ekonomi maju seperti Uni Eropa, AS, Kanada, AS, Jepang, bahkan China dengan penduduk terbesar sekalipun minus pertumbuhan bayi tiap tahunnya.

3. Distribusi ekspor-impor memudahkan satu Negara dengan Negara lainnya saling bertukar dan dapat memenuhi kebutuhan penduduk di negaranya.

4. China dan India yang berpenduduk banyak bahkan tidak mengalami disfungsi pangan dan ekonomi yang signifikan. Bahkan bisa menjadi Negara ekspor di non-pangan.

5. Penggunaan alat kontrasepsi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berhasil dilaksanakan pada zaman Orde baru Soeharto di Indonesia pada tahun 1980an.







No comments:

Post a Comment