Thursday, 12 June 2014

Resensi, Ulasan, dan Review buku Che Guevara Sang Revolusioner


Secara makro, membaca sebuah buku karya dari Robert Junaidi ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama merupakan karya yang cukup lengkap perjalanan hidup Che dari ketika lahir hingga ia terbunuh oleh tentara Bolivia. Bagian yang kedua lebih terfokus pada sosok pejuang tangguh Che selama ia hidup, Marxisme, kaitannya dengan Soekarno yang berpolitik kiri, jasad yang tidak ditemukan, dan sedikit menyinggung tentang pembunuhan yang berencana dan sarat akan konspirasi. Membaca buku ini secara personal membuat diri saya semakin tertarik dengan Marxisme dan sepak terjang Che yang beliau perjuangkan selama bergerilya di Amerika Latin dan (Kuba) Amerika Tengah. Entah saya masih baru dalam dunia tulisan entah saya saja yang agak berguyon. Kutipan kata “ihwal” sering kita lihat pada tulisan ini terutama di bagian awal paragraf. Masih terdengar kelu dan sedikit lucu untuk dibaca melihat begitu banyak kata sambung di dalamnya tapi saya hanya berfokus pada kata ihwal.

Sekilas tentang Che. Penulis lulusan S1 Fisip di Universitas Airlangga, Surabaya ini tahu betul orang yang masih awam tentang buku-buku biografi seperti saya terhanyut oleh cerita awal Che ketika ia lahir sampai ia tumbuh remaja, berjuang dengan sakit asma yang ia derita, dan perjalanan Che dan teman-temannya menelusuri Amerika Latin demi terpuasnya hasrat untuk berkeliling di satu benua. Begitu seru sekali membaca tulisan seperti ini. Bagian favorit saya dalam buku ini.

Che Guevara di Panggung Revolusi. Penulis biacara secara runut di sini. Walaupun banyak diselipi kata-kata ala “bahasa ala Fisip” yang saya kurang tahu apa istilahnya. Bukan berarti meremhkan suatu fakultas. Banyak berbicara tapi inti yang didapatkan dari tulisan satu halaman hanya sedikit saja. Penulis berusaha membuat tulisan layaknya novel dan biografi menjadi satu. Menggunakan majas personifikasi yang istilah zaman sekarangnya “dilebay-lebaykan”. Sebetulnya bumbu dari tulisan tersebut cukup penting tapi menurut saya terlalu berlebihan. Namun, setelah membaca sepak terjang Che bersama tentaranya. Jika dikronolgiskan, cukup sederhana. Tak terlalu banyak hal kompleks. Intinya, dari dia beranjak dewasa Che dan tentaranya bergerilya dalam menjatuhkan rezim Batista, kerjasama dan cekcok dengan Fidel Castro, menjadi dokter sampingan, berjuang keras melawan penyakit asama yang dia derita, dan hubungan asrama Che bersama beberapa istrinya. Namun, saya yang hanya pernah membaca biografi Che dari Wikipedia dan pdf kakak ipar saya, atau masih pembaca biografi Che yang amatir, buku ini cukup menarik untuk disimak.

Membaca Pesan Revolusioner dari Che Guevara. Saya tidak tahu kenapa entah saya yang mulai bosan membaca dan tak punya banyak waktu. Entah karena terlalu banyak paragraf-paragraf yang dirasa kurang penting untuk disajikan. Seperti di atas, banyak bahasa politis dan bahasa novel yang dihadirkan oleh penulis ketika Che selama hidupnya memperjuangkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Tentang paska sepak terjang Che kepada rakyat Amerika Latin, terutama di negara Kuba. Bab yang paling menarik menurut saya ketika kontributor Suara Pembaruan dan Jawa Pos ini membuat sub-bab tulisan hubungan antara Soekarno dan Che Guevara. Di sini dijelaskan bahwa Che melihat sosok Soekarno yang berkharisma dengan paham Marhaenismenya yang terpengaruh besar terhadap Marxis, ketika Che mengunjungi Candi Borobudur, serta hubungan antara Fidel Castro bersama Soekarno yang erat dan menentang kolonialisme.

Di bab akhir ini penulis menjelaskan “Che effect” pada skala nasional ketika era orde baru dan juga pada skala internasional. Secara umum buku ini cukup lengkap tak hanya dari biografi, namun juga pada segala aspek pemikiran dan juga perjuangan Che Guevara sebagai pahlawan revolusi bagi negara ketiga.

Sumber gambar

Ilham Maulana.
7:43 PM
12/6/2014

No comments:

Post a Comment