Wednesday, 30 May 2012

Scholarship Undercover

Buka google.com dan search dangan kata kunci BEASISWA atau SCHOLARSHIP, begitu banyak pilihan dari menu yang google hadirkan. Mulai dari institusi terkait, perusahaan luar negeri, perusahan BUMN, Kementerian Negara, perusahaan swasta lokal, bahkan individu. Kebanyakan beasiswa ada yang dari Tingkat Sekolah Dasar sampai Post Doctoral. Pendidikan Indonesia akhir-akhir inipun sudah semakin baik dengan banyaknya beasiswa untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Dan sangat banyak kita lihat pemuda/i yang berasal dari golongan tidak mampu sudah bisa bersekolah hingga perguruan tinggi.

Namun ada satu hal yang menarik yang ingin gue perbincangkan. Beasiswa yang menganjurkan pesertanya dari KALANGAN TIDAK MAMPU DAN MENYERTAKAN SURAT KETERANGAN DARI KELUARGA DAN RT SETEMPAT. Beasiswa memang tidak hanya buat yang tidak mampu. Malah ada beberapa sposor yang hanya mengandalkan syarat yang simpel seperti IP dan essay saja. Itu sah-sah saja. Namun, kadang dari beberapa oknum mahasiswa masih ada yang menyalahgunakan fasilitas ini. Terserah itu mahasiswa dari institusi universitas mana.
IP boleh tinggi, CV boleh tebal, ngomong waawancara boleh jago, esai boleh ribuan kata. Namun persyaratan “tidak mampu” ini menjadi persoalan. Tak usah melihat data statistik ataupun memberikan contoh dia itu siapa dan berapa yang ia dapat. Yang menjadi permasalahan adalah seorang mahasiswa tersebut memanipulasi surat ketua RT dan surat keterangan tidak mampu dari orang tua supaya mendapatkan beasiswa tersebut. Kadang gue miris ngelihatnya.

Gue melihat dia sebagai orang yang cukup mampu. Mulai dari gadget yang ia pakai, kost kelas menengah keatas dimana dia tinggal, dan lain-lain. Sepertinya mereka cukup mampu, tapi tetap mereka yang lebih tau bagaimana keuangan keluarga mereka sebenarnya. Jadi kasarnya “buat surat miskin buat dapetin beasiswa”. Oke, setelah uang itu didapat. Itu menjadi hak mereka dalam menggunakannya. Untuk membeli kosmetik, clothing, tiket pesawat ketika lebaran, laptop, buku, pulsa, biaya hidup, atau biaya kost selama masih menjadi mahasiswa.

Masih banyak yang lebih berhak mendapatkan uang tersebut. Ayolah, kita masih muda. Jangan biasakan diri kita untuk berbohong seperti itu untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa dan ujung-ujungnya untuk penggunaan perihal non-akademik seperti yang gue sebutin diatas tadi. Kalau lo memang dari keluarga yang berkecukupan, gue yakin pasti orang tua punya finansial tersendiri untuk membiayai sekolah. Masih banyak kok media untuk mendapatkan uang sampingan seperti berjualan online atau mengikuti perlombaan. Kita lihat saja yang diatas sana. Siapa bilang mereka orang bodoh. Mereka juga rata-rata pernah menjadi mahasiswa sama seperti kita. Jadi kalau dari awal ketika kita masih di sekitar umur 20 ini saja sudah menghalalkan cara untuk mendapatkan duit dengan berbohong. Dan jika kita dididik dengah cara seperti tadi, bagaimana kita di sepuluh duapuluh tahun kedepan?

2 comments:

  1. Setuju! Sadar ga sadar, itu merupakan jenis korupsi lho. Awalnya kaya gini, ntar jadi kebiasaan, ah buat aja suratnya walaupun ga kaya gitu. Ah, ya udah deh kasi izin aja, tinggal buat suratnya toh gw dapat duit.

    Pengen punya uang lebih, walaupun orang tua mampu? kerja sambilan lah, ngajar kek, jualan kek.

    ReplyDelete
  2. setuju juga !!
    ternyata dimana2 memang kayak gitu ya..sampai membuat surat miskin padahal mampu..

    ReplyDelete