Monday, 13 January 2014

Substansial Mendukung Tim Sepakbola Favorit

Rela menyisihkan waktu demi bisa menonton sang pahlawan di depan televisi. Siapa pahlawan tersebut? Browsing di internet atau twitter demi mengetahui hasil pertandingan, bahkan tak sedikit yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan finansial buat tim kesayangannya bertanding. Tak sedikit dari kita yang memiliki tim favorit dalam pertandingan olahraga. Apapun itu, entah itu baseball, basket, voli, apalagi sepakbola. Tapi saya ingin fokus kepada sepakbola. Karena olahraga ini memiliki nomor satu penggemar terbesar di dunia karena sangat merakyat dan sangat komersil secara internasional. Terbukti dari tingginya penayangan di televisi dan sponsor produk besar yang mendanai.

Kita berteriak, menyemangati, bersedih bahkan sampai menangis, melompat-lompat kegirangan, mengumpat, dan banyak ekspresi yang kita lampiaskan ketika melihat pertandingan tersebut. Terutama di televisi. Indonesia memang butuh banyak hiburan. Bosannya acara lawak yang tak lawak, berita politik dan hukum yang esensialnya hanyalah sebuah infotainment di kalangan para penonton yang terdidik, sinetron buat para pedofil, dan iklan yang lebih mendominasi daripada acara televisinya membuat para penonton negeri ini ingin menyaksikan sesuatu yang seru di layar kaca. Ya, itu, olahraga sepakbola khususnya pertandingan di kancah Eropa. Kita tak habis-habisnya berdebat menentukan yang terbaik antara Ronaldo dan Messi. Antara Bale dan Neymar, Persaingan ketatnya Liga Inggris, Liga Italia yang (katanya) sudah menurun popularitasnya, dan tim-tim “baru kaya” yang mulai berbahaya.

Konteks yang dimaksud di sini bukan arena judi, ataupun taruhan lainnya. Yang dimaksud ialah dukungan para fans, kita menyemangati, tapi apakah mereka benar-benar merasa tersemangati oleh kita yang notabenenya hanya penonton di seberang Negara bahkan di seberang benua. Pertandingan olahraga manapun, seseru apapun itu memang tak lengkap rasanya kita saling berteriak ketika tim kesayangan kita mencetak skor dan menggerutu sambil mengomentari kekurangan tim bak pelatih handal ataupun komentator ulung skala internasional. Begiutlah sepakbola, selalu ada kata seru, menang, maupun kalah. Menang berarti senang-senang, kalah berarti kekecewaan. Entah seberapa besar rasa kecewa dan kesenangan tersebut. Setiap orang pasti berbeda-beda tapi kita sebenarnya tahu bahwa rasa itu memang tak ada substansialnya. Inilah inti yang ingin saya sampaikan di sini. Entah apa yang disedihkan dan disenangkan ketika tim kesayangan kita kalah maupun menang dan anehnya malah merasa iri yang tak mendasar ketika tim lawan menang dan merasa senang ketika musuh bebuyutan kita kalah.

Omongan ini bukan berarti saya mengkampanyekan anti sepakbola ataupun menggalakkan fasisme dalam dunia olahraga. Namun, saya rasa penonton tak peduli. Penonton sudah merasa “naik haji” jika mendukung tim kesayangannya menang, bangun tengah malam, meng-update informasi pemain di klubnya, sampai mengikuti tahap demi tahap hingga mengangkat piala ketika akhir musim. Bangga setengah mati sampai tak tahu itu euforia jenis apa yang dirasakan. Kebanggaan yang tak ternilai sebagai seorang fans. Fans berasal dari kata fan yang berarti fanatic. Kita tak bisa menghindari kecenderungan menaruh romantisme berlebihan pada hal-hal kecil seperti kemenangan dan kekajayaan sebuah tim yang memperoleh kemenangan.

Sekali lagi saya meyakinkan, penonton tak peduli dengan semuanya. Penonton sudah terbawa atmosfer adrenalin kemenangan sebuah tim karena ada label yang tak kana da yang bisa menggantikannya. Penggila bola dan pecinta bola. Cinta dan gila. Ah, sudahlah kata itu terlalu jauh buat diungkap.

Mengutip sebuah prosa Peyton Manning mengingatkan ketika detik-detik akhir penentuan hasil akhir pertandingan yang sangat menegangkan, ”Pressure is something you feel when you don't know what the hell you're doing.”

No comments:

Post a Comment