Banyak yang berkata hal ini kepada saya. Entah lagi berdebat kusir bersama teman lama atau entah lagi membahas sejarah yang masih diragukan kebenarannya ketika duduk-duduk ataupun ngopi bersama. "Enak ya dijajah sama Inggris ntar bahasa resmi kita jadi bahasa Inggris tak kayak Belanda yang menjajah kita". Kalau itu benar-benar terjadi kita tak perlu repot-repot belajar bahasa Inggris dan tetek bengeknya".
Padahal kita sudah dijajah bertahun-tahun pada masa pendudukan Portugis di Maluku, 350 tahun oleh si bangsat Belanda, 5 tahun ketika dijajah Inggris Sir Thomas Raffles pada tahun 1800an, dan 42 bulan oleh negara sipit nan kate, Jepang, tapi ujung-ujungnya sampai sek arangkita tak pakai bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan atau bahasa pertama kita, padahal sama-sama dijajah. Sekarang saya tantang anda, tanpa bertanya atau browsing di internet, apa bahasa Belanda dari buku, pintu, atau kursi? Saya yakin tak banyak yang menjawab betul bahkan tak tahu sama sekali.
Namun, sebenarnya kita harus bersyukur pada Bung Karno, Bung Hatta, Muh. Yamin dan kawan-kawan ketika membentuk negara tercinta ini dalam menentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi.
Cintailah kesusastraan kita tanpa melupakan pelajaran bahasa asing dan pendidikan formal. Kita sudah bosan mendengar sastrawan terkenal seperti W.S. Rendra, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, Marah Roesli, Putu Wijaya, dan sastrawan masa lalu. Bukan berarti mereka tak hebat, tapi kita butuh penulis (apapun bidang disiplin ilmunya) seperti kamu, kamu, dan kamu wahai anak muda dan calon cendekiawan Indonesia agar bahasa kita makin dikenal serta bangga dengan bahasa kita sendiri.
Tuesday, 31 December 2013
Kenapa Kita Tidak Dijajah Inggris Saja?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment