Thursday, 23 October 2014

Persepsi Tentang Waktu

Tak ada yang mutlak. Sejauh ini yang mutlak hanyalah kecepatan cahaya. Selebihnya tak ada. Relatif. Atas nama pemikiran sendiri dan apa yang telah dilewati. Semuanya terhitung dengan sendirinya. Sendiri. Namun, waktu begitu saja berlalu. Hilang dalam diam yang merenggut bathin manusia. Ketakutan-ketakutan terhadap hal yang semu. Tak pun masalah pada hakikatnya jika kita tak mendapatkannya. Kita menjadi bias dalam diam dan diam dalam keheningan. Suara yang mempengaruhi waktu dan bunyi yang dipengaruhi sebuah proses yang sedang berlangsung.

Kita hanya melewatinya dan tak mampu bermain-main di dalamnya ke arah depan, apalagi ke belakang. Semua hanya mengikuti sebuah alur yang terlewati di sebuah tempo. Ya, begitulah kita! Takluk terhadap jelmaan ciptaan Tuhan. Hanya mampu mengikutinya, tak lebih dari sekedari anjing dan majikan. Ruang dan waktu tiadalah yang benar-benar tahu. Otak mengukur sesuatu yang tak benar-benar pasti dari suatu ketidakpastian. Warna dalam penglihatan berdifusi dengan waktu yang banyak namun sedemikian percuma sahaja. Akankah kita takluk pada ketakutan yang membuat kita kalah. Mengalahi suatu kebenaran. Kebenaran dalam diam dan tertutupi kesombongan dalam logika manusia. Seketika manusia menjadi musnah.

Bogor Sunyi di Tengah Malam
Sedang mendengarkan Ben Howard - I Forget Where We Are (2014)
00:52 WIB.
23 Oktober 2014.

No comments:

Post a Comment