Friday, 11 December 2015

Kehidupan Paska Wisuda 2015 - Bogor


Clean Up Jakarta Day 2015

Kehidupan paska wisuda memang memiliki banyak cerita dan tuntutan. Ya, itu yang saya rasakan sekarang di penghujung 2015 ini. Tahun yang sangat berkesan bagi saya. Di mana di awal tahun saya menyelesaikan seminar skripsi pada tanggal 30 Januari 2015, sidang akhir skripsi di tanggal 5 Maret 2015, dan berhasil wisuda tahap I tanggal 9 September 2015. Sangat mengasyikkan sekali karena saya berhasil menuntaskan studi saya di Institut Pertanian Bogor selama kurang lebih 5.5 tahun. Setelah wisuda pada hari Rabu saya dan sekeluarga berlibur di kota Bogor tercinta. Sebenarnya mereka sudah datang pada hari senin dan menginap di hotel Duta Berlian dan pindah ke Zest Hotel hingga pulang kembali ke Pekanbaru pada hari Jumat. Namun ditunda karena kendala asap yang membuat beberapa bandara di Indonesia khususnya di Kalimantan dan Sumatera berhenti beroperasi. Pada hari kamis setelah wisuda di hari rabu kami berwisata kuliner, berekreasi di Taman Bunga Nusantara, makan Sate Maranggi di Cianjur, dan menikmati kawasan puncak di kawasan Gantole yang tak jauh dari Puncak Pas.

Setelah menunggu selama satu minggu setelah wisuda di hari rabu, ijazah saya akhirnya keluar. Tepat pada tanggal 16 September 2015 saya dengan menggunakan sepeda motor langsung tancap ke Indomaret untuk jalan-jalan Ke Jogjakarta. Wacana ke Jogja sudah saya rencakanan sejak 2014 saya sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi. Namun harus saya tunda karena skripsi yang belum juga usai. Di rabu sore itu, saya membeli tiket kereta kelas ekonomi PT. KAI seharga Rp 140.000,-. Kebetulan saya mempunyai kenalan teman SMA untuk dijadikan tumpangan dan motor gratis untuk di Jogja Nantinya. Berangkat di malam itu juga, saya menggunakan KRL dari Bogor menuju stasiun Gondang Dia. Stasiun yang dituju yakni stasiun Senen. Disebebakan tak adanya akses KRL menuju Senen saya untuk pertama kalinya saya menggunakan ojek online: Gojek. Bermodalkan smartphone dan uang Rp 15.000,- saya berhasil menuju Senen. Berhubung jadwal kereta saya pas jam 7 pagi esok harinya. Saya pun terpaksa untuk beristirahat di stasiun dan akhirnya kereta berangkat pukul 7 dan sampai sekitar pukul 3 sore hari. Suasana yang tenang dan bikin ngangenin langsung terobati ketika sampai Jogja karena terakhir kalinya saya ke sana pada tahun 2011, 4 tahun yang lalu. Di Jogja, tak banyak yang saya kunjungi. Tapi pada dasarnya ada dua hal yang ingin saya lakukan di sana. Snowboarding di pinggiran pantai Parangtritis dan Candi Prambanan, karena tahun 2011 silam saya hanya ke Borobudur dan tak sempat singgah di Prambanan. Tentu saja Malioboro dan ngopi kopi sachetan di pedestrian titik 0 yang bikin ngangenin tak lupa saya datangi tepatnya saat sore hari.

Tak terasa seminggu sampai di Jogja, sayapun akhirnya cus ke Bandung dengan menggunakan kereta kelas bisnis bersama Arief untuk bertemu Arin dan Devin. Sedangkan Arief sendiri memang sengaja bertemu Ipit, pacarnya yang sekarang berkarir di kota Kembang. Ya, mungkin saja untuk terakhir kali saya bertemu dengan Arin tapi saya yakin pasti akan ketemu lagi. Meang-meong. Pada hari senin di akhir September sayapun kembali ke Bogor setelah senang dan hectic berwisata selama kurang lebih dua minggu di Jogja dan Bandung. Ijazah sudah di tangan, barang-barang sudah di-pack beberapa, dan waktunya kembali ke realita: kembali ke provinsi Riau untuk berkarir di sana. Perenungan saya untuk berkarir di mana cukup banyak menguraskan pikiran hingga akhirnya saya matang untuk tinggal bersama orang tua di Minas dan bekerja di kota Pekanabaru. Cukup lama saya menunggu hingga kabut asap hilang sehingga saya dapat pulang ke kampung halaman.

Di sela-sela itu saya masih sempat mengikuti acara yang menurut saya sangat berkesan, yakni Clean Up Jakarta Day tanggal 18 Oktober 2015. Acara bersih-bersih yang dikelola oleh Expat Jakarta ini saya ikuti walaupun pada malam minggunya saya kurang enak badan. Tapi saya tetap keras hati untuk ikut karena pada awalnya ya terpanggil hati untuk lingkungan dan memang suka kaos dati #TeamSweden yang menurut saya sangat. Saya bergabung bersama #TeamSweden yang diprakarsai oleh Sweden Embassy for Jakarta. Saya berkenalan dengan orang asli Swedia, para diplomat, dan beberapa tim saya: Retno, Aulia, Uca, Fajar, dkk.

Di awal oktober pun saya nekat sendirian pada jumat sore bermodalkan Google Maps dan sepeda motor Supra X 125 tahun 2006 bertolak menuju IKEA Alam Sutera walaupun sempat nyasar di kawasan BSD. Yeah! Akhirnya setelah hampir satu tahun menunggu paska resmi dibuka akhirnya saya merasakan labirin IKEA, makan Kottbullar (bakso ala Swedia) di kantin IKEA seharga Rp 40.000,- yang menurut saya itu bakso paling enak se-dunia. Tapi saya tidak sempat mencoba hot dog dan eskrim cone namun tak apa seharga kurang dari Rp 10.000,-. Berhubung duit yang pas-pasan saya pun akhirnya membeli satu jam dinding merk IKEA sebagai oleh-oleh untuk pulang kampung nantinya.

Akhir bulan Oktober datang jua, para keluarga sudah banyak menelfon untuk memastikan pulang kapan dan tiket untuk pulang ke Pekanbaru. Kondisi udara di kawasan pekanbaru memang tidak layak untuk terbang. Kabut asap menyelimuti Riau hampir 3 bulan namun tak ada tanda-tanda baik yang berarti. Gawat, bisa-bisa saya berpikir 2x untuk bekerja di Pekanbaru. Apa yang akan terjadi? Apakah kondisi ini membuat saya bertahan lama di Pondok AA, Bogor? Simak lanjutannya di Kehidupan paska Wisuda 2015 [part. 2] - Riau”.

Minas, 11 Desember 2015
16:05 WIB

No comments:

Post a Comment